Maseki Gurume Volume 5 - Kota Sihir, Ist Side Story ~ Kisah Barra

Pengaturan Membaca

Font Style

  • Arima
  • Nunito
  • Corben

Font Size

Vol.05 - Ch.17.1
Side Story ~ Kisah Barra

Diterjemahkan oleh: KuroMage pada 17 Desember 2021 .

Selamat membaca...

Aku tidak terlalu mengerti bagaimana rasanya. Bukannya tidak mengerti, hanya saja aku belum pernah merasakannya. Rasanya memang enak, dan aku bisa merasakan seluruh tubuhku bahagia telah merasakannya. Siapa sangka. Tidak pernah sekalipun terbayangkan aku bisa mendapatkan pengalaman mencicipi masakan istana.

…..

Beberapa jam telah berlalu sejak berpisah dengan Ain dan pulang bersama Catima, mereka pun tiba di Istana yang ada di Ibukota.

Sesuai arahan dari Warren, mereka pun menikmati santapan untuk menghilangkan rasa lapar setelah perjalanan. Barra cukup merasa lega karena Dill dan Catima tidak langsung meninggalkannya dengan Mei, namun juga ikut makan bersama mereka.

“Mei… Ini.. Makan ini juga…”

“Ini apa?? …Manis!?”

Khususnya, Barra sangat berterima kasih pada Catima. Gadis itu telah memperlakukan dirinya dan Mei yang hanya anak yatim piatu dari wilayah kumuh dengan perlakukan yang baik. Bahkan selama waktu makan, Catima banyak mengajak Mei berbincang dan membuatnya terlihat senang.

“A-anoo.. Catima-sama? Apa tidak masalah memberikan kami makanan yang selezat ini… Kami tidak bisa membalas apa-apa…”

“Barra akan bisa membalasnya kapan saja nya… Yah dalam skenario terburuk sekalipun, ini cuma satu kali santapan nya… Jadi jangan terlalu dipedulikan nya…”

Sebenarnya bukan sekali makan saja. Saat masih di Ist, mereka menyewakan penginapan dan santapan disana. Ditambah lagi air panas, semua ini menumpuk perasaan sungkan Barra.

“Ta-tapi …”

“…Istalica saat ini sedang berusaha mengurangi adanya anak yatim terlantar nya…. Namun sampai saat ini masih belum terlaksana nya… Sebagai keluarga kerajaan kami merasa malu dengan hal ini nya… Jadi kami merasa setidaknya ini adalah tindakan wajar nya…”

Catima yang mengerti maksud Barra pun mulai memberikan penjelasan.

“Mulai saat ini nya… Kami berjanji untuk meningkatkan usaha kami… Karena itu, mungkin sebagai orang yang selalu tinggal di Istana, kata-kata ini terlalu tidak pantas, namun aku ingin kalian menganggap semua ini keberuntungan nasib kalian belaka…”

Tidak dapat disangkal bahwa memang nasib mereka benar-benar beruntung. Ain yang hanya kebetulan sedang tersesat mendengar suara teriakan Mei dan kemudian datang membantunya. Dengan mempertimbangkan semua hal ini, maka mereka berdua termasuk sangat beruntung.

“…Baik.. saya mengerti”

Adalah kenyataan bahwa Mei dapat tersenyum bahagia dan menyantap makanan sampai kenyang. Yang paling penting dalam hidupnya adalah kebahagiaan adik tercintanya itu, hal ini tidaklah berubah.

“Martha! Apa Martha ada nya!?”

Ketika Barra sedang termenung dalam pemikirannya, tiba-tiba Catima memanggil Martha.

“Tentu saja, Catima-sama… Tolong jangan berteriak begitu…”

“Aku sengaja agar bisa terdengar.. Anggap saja ini sikap perhatianku nya… Karena kami sudah selesai makan, kami akan pergi, bisa aku titip Mei padamu?”

Mereka telah beristirahat sejenak. Sekarang saatnya menemui Warren dan memastikan sesuatu tentang Barra. Yaitu tentang level kemampuan penyembuhan milik gadis itu.

“Dimengerti… Ayo Mei-chan? Sambil menunggu main sama saya…”

Ia tahu bahwa dirinya sudah tidak pantas dipanggil kakak. Namun ia juga tidak ingin dipanggil tante, karena itu Martha menggunakan kata ‘Saya’ untuk memanggil dirinya sendiri. Ini menunjukkan Martha masihlah seorang perempuan.

“Kakak gak ikut??”

“Kakakmu ada pekerjaan sebentar.. Jadi kamu tunggu sebentar ya…”

Mungkin perkataan Martha sedikit membuatnya khawatir, sehingga Mei mengalihkan pandangannya pada Barra.

“Tunggu sebentar ya Mei… Kakak usahakan pulang cepat…”

“Ya! Ok! Seperti biasa, Mei akan menunggu seperti biasa!!!”

Barra pun mengikuti Catima menuju ke tempat Warren.

——Pada saat ini, mulai tumbuhlah ketertarikan Mei pada penampilan dirinya yang menggunakan seragam Maid ketika ia bermain dengan Martha.

Mei mendesak Martha untuk menunjukkan cara seorang pelayan membuatkan teh. Dan setelahnya, Mei pun menjadi kagum pada Martha dan terus menempel dengannya selama beberapa hari kedepan.

Martha yang merasa telah terkalahkan ini pun mengangkat Mei menjadi muridnya. Dan sejak itulah, mei memulai langkahnya untuk melampaui gurunya itu.

***

Mengejutkannya, pemeriksaan oleh Warren dan para peneliti lain berakhir dengan cepat.

Sebab mereka hanya ingin melihat hasil dari kemampuan penyembuhan gadis itu. Pemeriksaan ini dilakukan dengan melakukan penyembuhan kepada satu orang yang sedang terluka. Dan mereka pun mengambil keputusan dari itu.

“Terima kasih telah memperlihatkan hal bagus…”

“Benar Perdana Menteri… Dari sudut pandang kami, kami akan mungkin bisa dikategorikan sebagai kelas dua…”

“Hoo… Kelas dua ya.. Jadi dengan kata lain, dia bisa menyembuhkan luka selain kematian, begitu??”

Dua orang peneliti itu memberikan penilaian mereka kepada Warren. Di hadapan mereka ada Barra yang berdiri dengan gugup serta Catima yang terlihat girang.

“Tuan Perdana Menteri… Lebih tepatnya, penyembuhan kelas dua dapat menyembuhkan semua penyakit selain penyakit yang mematikan. Tentunya saja itu bergantung kepada kapasitas mana milik penggunanya…”

“Sedangkan kelas satu itu, dapat menyembuhkan penyakit mematikan dan cedera yang setara dengannya… Bahkan tidak ada efek samping apapun dalam penyembuhannya… Jadi dibandingkan itu, kita perlu melakukan perawatan berkala… Selain itu,,,, kelas dua tidak dapat menyembuhkan cedera khusus yang disebabkan oleh monster tertentu..”

“Ini hebat… Ini semua berkat Ain-sama…”

Setelah menjelaskan semuanya, kedua peneliti itu pun membawa orang yang terluka itu pergi. Mungkin mereka akan disibukkan dengan dokumen mengenai rinciannya.

“Baiklah Barra-dono… terima kasih telah menunjukan hal bagus kepada kami…”

“I-ini hanya yang biasa saya lakukan… jadi bukan hal yang istimewa…”

“Hmm… Anda hanya tidak tahu seberapa berharganya anda… tidak banyak yang bisa seperti ini… Bukan begitu, Catima-sama?”

“Itu benar nya… Aku tidak akan memaksakan pandangan bahwa ada tanggung jawab melekat pada orang yang diberkahi kemampuan nya, namun aku rasa pantas rasanya jika kemampuan itu mendapatkan penghargaan yang setimpal nya..”

Kedua orang itu terlihat sangat puas, namun Barra masih tidak mengerti situasinya. Mengapa orang-orang itu sampai memuji dirinya berlebihan? Padahal ia hanya melakukan hal yang biasanya ia lakukan. Itu saja.

“Kalau begitu, Barra-dono… tentang pekerjaan Anda… Bagaimana jika Anda menjadi Healer resmi Istana??”

“….!?”

Bekerja di Istana?? Jangankan berkhayal tentang itu, bahkan dalam benak Barra, orang rendahan seperti dirinya tidak layak untuk berada di Istana dalam waktu yang lama.

Barra pun terdiam membeku setelah mendengar perkataan mengejutkan itu. Catima yang menyadari hal ini pun mulai membuka mulutnya.

“…Apa aku boleh mengatakan sesuatu nya?”

“Ya-ya.. Sepertinya itu akan lebih baik… Silahkan Catima-sama…”

“Kalau begitu, langsung saja nya… Barra, aku merasa sangat senang kalian berdua ada di sini… Apa kalian tidak senang berada disini nya?”

“Ti-tidak… Mana mungkin kami begitu!?”

Sambil tersenyum menyeringai, Catima melanjutkan perkataannya.

“Aku berjanji nya… Kami akan menjamin Mei selalu bisa makan sampai kenyang, dan memberinya tempat tinggal yang layak… tentu saja ini juga berlaku untuk Barra nya… Kami juga akan menggaji Barra dengan layak nya… Jadi kalau bisa, aku ingin Barra bersedia bekerja disini nya…”

Tak ada satupun kebohongan dalam kata-kata Catima. Selain itu, memang benar dia merasa senang dengan kehadiran mereka berdua. Catima sangat memanjakan Mei, dan dari sudut pandang pribadinya, ia ingin Barra menerima tawaran ini.

“A-apa ada pekerjaan yang bisa dilakukan orang seperti saya…”

“Justru kami punya pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh Barra…”

Catima menatap Barra dengan penuh keyakinan. Sudah lama sekali Barra tidak melihat tatapan yang begitu tulus seperti itu. Ini mengingatkannya dengan sorot mata ibunya yang telah meninggal. Sorot mata yang sama dengan yang dipancarkan Catima.

“…Saya juga ingin Mei dapat makan sepuasnya… Selain itu aku juga tidak mau kami kembali tidur di tempat yang dingin itu…*hiks”

“…Kalau begitu sudah ditentukan Nya…”

Semua demi Mei, Semua demi Mei.

Meskipun selama ini Barra terus berjuang dengan kata-kata itu sebagai semangatnya, namun tak dapat dipungkiri bahwa gadis itu telah mencapai batasnya. Dan dengan perkataan Catima sebagai pemicunya, gadis itu pun menumpahkan air matanya.

Hari-hari terasa berat hingga terasa tak mampu lagi. Sambil terus berharap ada seseorang yang menolong mereka. Bukanlah sebuah kebohongan jika ia merasa seperti itu.

“Baiklah, Barra… Maaf telah membuatmu mengingat hal menyedihkan nya….”

“…Mo-mohon maaf saya telah menunjukkan hal yang tidak mengenakkan…”

“Tidak apa-apa Nya… Tapi ada satu hal penting lain yang harus kita bicarakan nya…”

Barra penasaran dengan hal penting itu. Namun selama ia dan adiknya bisa makan dengan teratur, dan tidur ditempat yang nyaman, apapun tidak menjadi masalah. Itulah yang ada dalam benak Barra.

“Warren! Saatnya membicarakan masalah gaji nya!!!”

“Ha ha ha… Kalau begitu, Barra-dono.. Mari kita bicarakan masalah gaji….”

“…Apa?”

“Sudah kubilang, Masalah gaji Nya!! Kami tidak serendah itu sampai membuat kalian bekerja gratisan!!”

“A-apa benar saya akan mendapatkannya…”

Meskipun ini sedikit tidak sopan, namun sejujurnya Barra tidak menyangka akan benar-benar akan digaji. Karena itu saat ini ia merasakan rasa antara terkejut dan rasa senang.

“Ten-tu-saja kan!! Kamu ini benar-benar tidak sopan sekali!! Warren! Cepat jelaskan gajinya…”

“…Baiklah.., saya akan menjelaskan tentang gajinya… Di tahun pertama, karena masih baru, kami akan memberikan sembilan keping setiap bulannya…”

Sembilan keping koin tembaga, itu setara dengan 9000G. Ini angka yang cukup jika mengingat kehidupan yang mereka jalani selama ini. Justru dapat dikatakan berlimpah.

“Warren? Sepertinya penjelasanmu itu sedikit ambigu nya…”

“Oh…maaf Barra-dono… Kami akan memberikan sembilan keping emas Ishtar setiap bulannya… Kira-kira sebesar itu gaji anda…”

“Koin emas Ishtar itu apa….? Mohon maaf… saya cuma tahu koin tembaga…”

Sebagai orang yang telah lama berada di daerah kumuh, Barra memang memiliki beberapa pengetahuan, namun ia tidak mengerti seberapa berharganya benda itu.

“Satu kepingnya bernilai 100.000G… jadi 9 keping setara dengan 900.000G nya… Tahun depan akan lebih tinggi lagi… Jadi semangat nya!”

“Se-sembilan ratus!?? Memangnya APBN??”

Ia belum pernah melihat uang sebanyak itu. Barra begitu terkejut mendengar jumlah yang membuatnya justru merasa ngeri itu.

“Kalau anggaran negara cuma segitu, negara ini tidak akan bertahan lama Nya…”

“Ngomong-ngomong, kalau Anda tidak keberatan, kami akan mempersiapkan ruangan untuk anda di dalam istana… Jika begitu, maka akan akan dikurangi 3 kali santapan sehari, gaji anda menjadi sekitar 500,000G…. tentu saja sudah termasuk dengan kamar mandi dan perlengkapan lainnya…”

“To-tolong… sediakan…”

Normalnya, 500.000 G untuk biaya kamar dan makan tiga kali sehari ini adalah angka yang terlalu murah. Namun untuk menunjang kesejahteraan, mereka memberikan banyak diskon.

Bahkan dari sudut pandang lingkungannya, dan mempertimbangkan keselamatan Mei, tidak ada pilihan lain yang lebih baik dari ini. Selain itu, cukup sulit juga jika dia harus mencari rumah kontrakan sendiri. Setelah mempertimbangkan semua ini, Barra membuang semua rasa sungkannya dan memutuskan memilih pilihan ini.

“Kalau begitu, silahkan gunakan saja kamar yang barusan Anda gunakan…. Anda juga bebas membawa barang-barang Anda… Santapan untuk Mei-dono akan disiapkan oleh para pelayan Istana sesuai dengan waktunya… Saat Barra-dono ada waktu luang, Anda juga diperbolehkan untuk makan bersama dengan Mei-dono di kamar…”

Mulut Barra terus menganga setelah mendengar hal yang sangat sempurna bagaikan mimpi itu. Catima yang melihat hal ini pun mulai tertawa terbahak-bahak.

“Nyahaha! Kalau begitu mungkin ini sedikit mendadak Nya.. Apa kamu bisa mulai bekerja besok nya??”

“Tentu saja! Mulai sekarang pun saya tidak masalah…”

“Kalau begitu kebetulan… Ada beberapa hal yang perlu Anda pahami saat tinggal di Istana… Mari kita mulai hari ini dengan menjelaskan hal itu terlebih dahulu…”

Meskipun pada awalnya, hari hari Barra dipenuhi dengan perjuangan menghafal, namun jika dibandingkan dengan kehidupannya dahulu di wilayah kumuh, semua terasa bagaikan di surga. Dengan penuh kerja keras. Barra berusaha melaksanakan tugasnya.

Namun beberapa hari kemudian. Ketika Barra selesai bekerja dan kembali ke kamarnya, ia menemukan sebuah pemandangan yang mengejutkan. Ia melihat sosok Mei yang mengenakan pakaian pelayan sesuai pelatihan Martha.

Dengan bangganya Mei menceritakan “Mei jadi muridnya!!”. Inilah hal yang paling mengejutkan yang pernah Barra alami.

Dengan demikian, kehidupan baru Barra pun dimulai dengan cukup meriah.

Terima kasih telah berkunjung...
Jangan lupa tinggalkan komentar....

Perhatian!!!

Kurozuku hanya sebatas Menerjemahkan cerita novel kedalam bahasa Indonesia. Hak cipta cerita novel sepenuhnya dimiliki oleh penerbit dan penulis aslinya.

Comments

4 tanggapan untuk “Maseki Gurume Volume 5 Chapter 17A”

  1. Bashir berkata:

    Mantap lanjutkan min

  2. SiOtong berkata:

    Apbn dong wkwk

  3. Leno vo berkata:

    Tanks min. Next

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *