Pengaturan Membaca

Font Style

  • Arima
  • Nunito
  • Corben

Font Size

Vol.06 - Ch.02
Kunjungan Rumah Bertema Study Tour

Diterjemahkan oleh: KuroMage pada 13 Januari 2022 .

Maaf selalu lama update ya....

Kingsland Royal Academy. Adalah nama sebuah lembaga pendidikan paling bergengsi di Istalica, yang di dalamnya terbagi ke dalam beberapa level berdasarkan prestasi. Terlebih, ada yang mengatakan bahwa  para siswa yang berada di dua level kelas teratas, memiliki masa depan cerah setelah mereka lulus dan kemungkinan besar akan menjadi orang penting di Istalica.

Memang benar bahwa masa depan para siswa di sana akan cerah, namun kali ini cukup di luar dugaan. Semua orang yang terlibat pasti akan berpikir demikian.

“Baiklah.. cukup itu penjelasan tentang Observasinya… Apa ada yang ingin bertanya??”

Waktu menunjukkan masih pukul lima pagi. Meskipun begitu, saat ini mereka sudah beraktivitas di sana.

“Ti-tidak ada… Tapi, aku tidak menyangka Profesor Kyle ikut terlibat…”

Adalah Loran yang mengatakan itu. Ia adalah seorang anak lelaki berusia 12 tahun yang merupakan teman sekelas Ain yang juga merupakan siswa tahun kelima di akademi tersebut.  Seperti halnya Ain, dia juga berhasil mempertahankan kedudukannya di First Class.

Peringkatnya dikelas adalah urutan ke-3. Tahun ini ia berhasil menyalip Bats dan naik ke urutan ke-3. Sebagai informasi tambahan, urutan pertama adalah Ain sedangkan yang kedua adalah Leonard.

“Aku tidak perlu mengatakannya kan… lagi pula pekerjaan ini penuh dengan rahasia.. jadi lebih bijaksana kalau aku menyembunyikannya… ”

Kyle mengatakan itu sambil membenahi posisi kacamatanya. Dia adalah sosok yang bertanggung jawab atas First Class sejak Ain dan teman sekelasnya masih ditahun pertama. Pria itu adalah seorang profesor yang mendedikasikan diri pada teknik sihir. Namun, bahkan Loran sekalipun tidak menyangka akan menjumpai sosok pria itu di tempat seperti ini. Sebab baru-baru ini Loran terus mengajukan pertanyaan tentang hal teknis kepada pria itu.

“Tapi ini benar-benar mengejutkan… ya tapi cukup mengejutkan juga bahwa aku dipanggil ke tempat ini…”

Saat ini, Loran sedang berada di sebuah bangunan besar yang terletak di wilayah berjarak 30 menit menggunakan Water Train dari Ibukota. Sebuah produk tertentu sedang diproduksi di bangunan itu.

“Bakatmu mendapatkan penilaian yang cukup tinggi… Berbanggalah… Sebagai profesor aku juga cukup bangga dengan itu…”

“Anoo… Profesor Kyle? Bukannya Anda tidak pernah memujiku di sekolah??”

“Aku punya prinsip bahwa pendidikan yang keras akan membuat orang berkembang… Lagi pula ini masih belum perlu memberikan ‘permen’ kepada kalian kan?? Tapi tempat ini bukanlah sekolah…”

“Hmm… Haa… Begitu ya…”

Saat mereka berdua tengah berbincang tanpa semangat seperti itu, banyak suara bergema memenuhi bangunan itu yang membuatnya terasa hidup.

“Mulai hari ini, selama sekolah, kamu akan bertugas sebagai insinyur magang di tempat ini… Aku menghargai keterampilanmu… karena itu, mari kita membangun mimpi besar bersama…”

Setelah mengatakan itu, Kyle pun mulai berjalan menuju sebuah objek raksasa.

“Benar-benar besar ya…”

“Ini adalah harta karun yang menjadi mimpi para insinyur dan peneliti seperti kita..”

Di sekeliling mereka sudah ada banyak komponen-komponen dan rangka yang telah disusun. Di antara semua itu, ada satu “bahan” yang lebih mengejutkan.

“[Tulang Belakang Sea Dragon], tak ada satu pun bahan yang lebih cocok untuk membuat kapal dibandingkan bahan itu…. Kekuatan Yang Mulia Pangeran juga berdampak besar pada mimpi orang-orang seperti kita..  Loran,  kamu juga harus berterima kasih pada beliau.,…”

“…Ya… Anda benar…”

Sejauh mata memandang, bangunan ini dipenuhi dengan material Sea Dragon yang berhasil Ain kalahkan. Namun saat membayangkan semua bahan-bahan itu akan menjadi sebuah kapal, maka harapan dan impian pun melambung.

Tidak normal bagi seorang anak yang masih merupakan siswa sekolahan untuk datang ke tempat seperti ini. Namun ini juga dapat dikatakan ada yang memberikan penilaian dan harapan kepadanya.

Sudah satu tahun berlalu sejak rencana pembuatan kapal naga ini dimulai. Segalanya berjalan dengan lancar dan mungkin dalam beberapa tahun ke depan akan menunjukkan penampilan sempurnanya kepada seluruh Istalica.

***

Di hari yang sama dengan Loran yang tiba-tiba mengetahui sebuah rahasia negara. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, dan semua siswa First Class sedang berkumpul di kelas.

Wajah-wajah mereka mungkin adalah wajah yang sudah sering terlihat dimana-mana. Namun, hanya Ain dan Leonard, serta Loran dan Bats sajalah yang berhasil bertahan di First Class selama lima tahun berturut-turut.

“Loran… Kayaknya ngantuk banget…”

“Ya… Sebenarnya aku ada sedikit pekerjaan dari pagi…”

“Kamu ngapain pagi-pagi?? Kayaknya itu tempat bahaya deh, mempekerjakan orang di jam segitu…”

Bats menanggapi pernyataan Loran. Jika saja ia tahu apa yang dikerjakan oleh Loran, mungkin ia tidak akan mengatakan itu.

“Ah, hahaha… bagaimana ya…”

Loran tak tahu harus bagaimana menanggapinya. Pada kenyataannya, di tempat dia bekerja saat ini, semakin dekat dengan penanggung jawab tertinggi, maka itu juga berarti semakin dekat dengan Ain. Sebab [Sea Dragon Fleet] ini adalah proyek nasional.

Ain tahu bahwa saat ini proyek [Sea Dragon Fleet] ini sedang berlangsung. Namun ia tidak pernah menyangka bahwa Loran dan Wali kelasnya terlibat di dalam proyek tersebut.

“Yah, jaga kesehatanmu Loran….”

Kata-kata lembut Leonard menembus hati Loran.

“Terima kasih Leonard… Aku akan berhati-hati…”

“…Ngomong-ngomong, kenapa kita semua berkumpul hari ini?”

Ain sama sekali tidak tahu. Alasan mengapa seluruh siswa First Class berkumpul hari ini. Namun sepertinya Leonard dan yang lainnya mengetahui alasan tersebut, dan memberikan penjelasan kepada Ain.

“Yang Mulia… Kemungkinan hari ini akan mendiskusikan tentang Study tour… ”

“..Hah?”

Akhir-akhir ini Ain terus terlibat dalam hal-hal yang merepotkan. Terlebih soal Heim yang sangat mengganggu hatinya. Mengingat kembali kerusuhan dengan Viscount Sage, maka benar bahwa Ain telah terlibat dengan banyak hal.

Dan kali ini Study tour? Perbedaan ini membuat Ain tak habis pikir. Bahkan Ain baru pertama kali tahu bahwa di Akademi ini memiliki kegiatan semacam itu.

“Study tour?? Apa-apaan agenda damai khas anak sekolah itu??”

“Yang Mulia. Ini memang sekolah, jadi tidak ada salahnya…”

“…Aku agak pusing tadi… Benar juga.. Ini sekolah..”

Karena teman-teman yang dimilikinya cukup tidak normal, terkadang Ain lupa bahwa mereka masih berada di sekolah. Saat ini Ain masih berada ditahun ke lima, masih ada 6 tahun lagi tersisa untuk kehidupan sekolah yang luar biasa ini.

“Untuk itu… sepertinya akan ada beberapa hal yang perlu disampaikan…”

“Begitu ya… Ngomong-ngomong, tujuannya kemana? First Class kita bakal ke mana?”

“Ain… Kamu benar-benar gak denger apa-apa ya… Bebas tahu… katanya kita bebas memilih tujuan mana pun yang kita mau…”

Bats menjawab menggantikan Leonard. Ketika mendengar hal itu, dalam hati Ain bergumam.

(Karena belajarnya bebas, yang ini juga bebas ya…)

“Kelas ini terlalu bebas tahu…”

“Biasanya tujuannya adalah perusahaan besar atau fasilitas nasional… Meskipun tidak bisa masuk kedalam, bangunan-bangunan di sekitar istana juga sering menjadi target kunjungan… Selain itu… Stasiun White Rose juga cukup populer di sini…”

“Tolong jangan ke Istana… Beneran deh…”

Loran menjelaskan tentang pilihan-pilihan di masa lalu, namun Ain tidak ingin mengunjungi Istana. Lagi pula itu adalah rumahnya, agak tidak masuk akal jika mereka mengunjungi tempat itu.

“Kalau begitu perusahaan besar ya… Akhir-akhir ini mungkin Ogast Company yang paling bagus…”

“Ogast Company juga jangan.. tolong… Untuk beberapa alasan aku sulit ke sana…”

Puteri pemilik perusahaannya adalah ajudan pribadinya. Saat mempertimbangkan hal ini membuat Ain menahan diri untuk datang ke sana.

“Hei Ain!! Kok egois sih!”

“…Tolong tebak, Bats..”

“Kalau begitu… White Rose?? ”

Setelah di eliminasi, sepertinya pilihan terbaik adalah White Rose. Ain juga tidak keberatan mengunjungi tempat itu.

“Itu adalah stasiun yang bagus.. Iya kan?”

“… Benar Yang Mulia….”

“Udah tahu…”

“Haha … Sudah.. sudah… Stasiun itu memang cukup maju.. Jadi kita akan dapat banyak pengalaman di sana…”

Keempat orang ini kemungkinan akan mengunjungi White Rose. Begitulah bayangan yang ada di benak mereka sampai siang hari.

Beberapa menit kemudian, Kyle, wali kelas mereka pun masuk ke kelas, dan mulai menjelaskan tentang Study tour mereka. Mereka harus memutuskan tujuan dan melaporkannya kepada Kyle dalam waktu satu minggu.

Baru saja Ain berpikir untuk membicarakan hal ini dengan santai di Terrace…

***

“Hei Ain… Semangat dong..Gak perlu putus asa begitu kan?”

“… Aku tidak pernah mengira akan jadi begini…”

Di meja Terrace tempat mereka berempat sering berkumpul. Tempat yang biasa mereka gunakan untuk makan siang saat lewat tengah hari karena sudah kosong. Hanya satu orang di antara mereka yang terlihat tidak semangat.

“Ya-yang Mulia… Ka-kami benar-benar merasa terhormat kok… Saya benar-benar merasa senang jika bisa ke sana… Jadi…”

“Itu benar, Ain-sama! Jadi semangatlah! Lagi pula ini kan perintah Perdana Menteri… Jadi jangan terlalu murung begitu…”

Alasan mengapa Ain begitu tidak semangat adalah tentang Study tour. Setelah wali kelas mereka selesai memberi penjelasan di kelas, mereka berempat dipanggil oleh Profesor Kyle dan diberitahukan sesuatu.

“Ini kan jadi kayak kunjungan rumah!!”

Atas permintaan Perdana Menteri, tujuan study tour mereka berempat telah ditentukan. Lokasinya adalah Ibukota, tepatnya adalah Istana White King. Mereka akan memasuki gerbang istana, dan melihat-lihat fasilitas di dalamnya.

Serta ucapan terima kasih telah menemani Ain saat ujian pelatihan Monster dulu. Mungkin agak sulit jika di dalam Istana, namun jika hanya menunjukkan fasilitas yang ada di dalam gerbang, maka tidak masalah. Begitulah bunyi undangan dari Warren.

Tentu saja mereka bertiga senang dengan undangan itu. Di dalam gerbang istana banyak sekali fasilitas dan orang-orang penting. Maka tidak ada tempat lain yang lebih layak untuk dikunjungi selain di sana.

Mungkin ini termasuk perlakuan khusus, namun Warren telah memutuskan.

“Kalau harus begini.. Ogast Company masih lebih baik…”

Kalau di Istana, maka semuanya ada. Mulai dari keluarganya, Claune dan Chris, serta yang lainnya.

(Sepertinya aku harus memberi sesuatu pada Catima-san agar tidak keluar dari Labnya…  Tahanan rumah adalah yang terbaik!!)

Jangan biarkan kucing menyebalkan itu bebas pada hari H. Itulah yang menjadi agenda terpenting.

“Sudahlah terima saja Ain… Jadi siapkan mentalmu sebelum bulan depan ya…”

“Aku tidak menyangka perlu untuk menyiapkan mental untuk mengunjungi rumahku sendiri…”

Study tour akan dilaksanakan satu bulan kemudian. Sampai hari itu tiba, Ain harus menyiapkan mentalnya dan menerimanya, serta tentunya berpasrah diri.

“Hei Leonard! Ngomong-ngomong, aku… tidak punya baju yang pantas buat pergi ke Istana!”

“… Aku akan meminjamkanmu beberapa… Jadi tenang saja Loran…”

Seakan kebalikan dengan yang Ain rasakan, Loran cukup bersemangat. Ia merasa tenang memiliki teman seperti Leonard yang bisa diandalkan.

“Makasih Leonard~~! Kalau musim dingin aku masih bisa menyembunyikannya dengan Mantel, tapi kalau awal musim panas seperti sekarang ini.. Aku tidak punya pakaian yang pas…”

“Sepertinya Loran harus segera menyiapkan pakaian seperti itu ya…”

“Ah… Benar juga… Nanti kalau sudah dapat gaji aku coba cari deh… temani aku belanja ya…”

“Sudah kuduga… Aku tidak masalah sih…”

Ain hanya bisa termenung menatap mereka berdua.  melihat mereka. Ia merasa sedikit kesal dengan dirinya sendiri karena tidak bisa ikut senang meskipun mendengarkan percakapan mereka berdua yang terlihat menyenangkan.

Ain ingin untuk mengambil izin sakit, namun sepertinya akan sulit.

“Aku bilangin ya Ain… Kalau kau berniat untuk tidak ikut dengan alasan tidak jelas aku bakal laporin profesor Kyle..”

“Alasan gak jelas… Mana mungkin kan??”

“Kok panik begitu? Kau ini… Setidaknya ini adalah agenda kelompok, jadi pastikan kau ikut…”

Begitu ya. Jadi sudah tidak ada jalan untuk melarikan diri.

Jadi itu saja. Sepertinya tidak ada jalan keluar. Agar bisa lulus dengan baik, ia tidak punya pilihan lain selain bersabar dan ikut serta.

(…Kalau tahu begini seharusnya aku mempercepat agenda perjalanan ke Balt…)

Karena saat ini sedang dilakukan beberapa penyesuaian jadwal, jadi Ain tidak pergi untuk melakukan penyelidikan lain. Baik itu ke kota Petualang Balt, maupun bekas Istana Raja Iblis serta tempat berbahaya lainnya. Untuk itu, diadakan banyak sekali rapat dan lebih banyak ketimbang sebelum Ain menuju ke Ist. Setelah semua itu selesai, barulah Ain dapat pergi melakukan investigasi selanjutnya.

 

“Hei! Ain dan Bats ikut juga yuk!”

“Kau ini semangat banget ya… Ikut ke mana emangnya sih?”

Loran terlihat sangat bersemangat. Sepertinya ia sangat menantikan kegiatan study tour ini. Bats sedikit terkejut menyaksikan semangat orang itu.

“Nanti waktu aku pinjam pakaian dari Leonard, kita main ke mana gitu yuk…”

“Kalau begitu kita ke rumah Leonard saja??”

“Oi tunggu, Bats!! Mana mungkin rumahku bisa mengundang Yang Mulia seperti itu kan!! Rumahku gak sebagus itu!!”

Tiba-tiba terlontar ajakan untuk bermain ke suatu tempat. Namun tidak ada yang salah dengan hal ini.

“Kau ini kan anak Duke… Mana mungkin gak bagus!!”

“Be-beliau bukan orang yang bisa seenaknya saja diundang oleh bangsawan biasa tahu!!!”

“Yah, kamu tidak perlu terlalu memikirkan hal itu..”

Dari sudut pandang Leonard, yang tumbuh di bawah didikan keras ayahnya, adalah hal konyol untuk berani mengundang keluarga kerajaan ke rumah seorang bangsawan. Kalau dirinya melakukan hal itu, entah teguran macam apa yang akan diberikan ayahnya kepada dirinya. Meskipun Ain meminta untuk tidak memikirkannya, namun ini tidak semudah itu.

“Yang Mulia, tolong sadar sedikit tentang posisi Anda…”

Seakan mengabaikan Leonard, Ain pun menepuk tangannya.

“Sepertinya ini akan seru… Ayo kita main kerumah Leonard!”

“Yang Muliaaaaa!?”

“Oke. Kalau begitu, sudah ditetapkan ya… Jadi kapan??”

Mengesampingkan duka Leonard, Ain mulai terlihat bahagia. Sangat berbeda dengan kemurungan yang sejakl tadi ia tunjukkan.

“Bagaimana kalau weekend selanjutnya? Lima hari lagi ya? Bagaimana? Gak apa-apa kan Leonard?”

Lebih cepat dari dugaan Loran, karena itu ia bertanya kepada Leonard.

“…Terserahlah…”

“Oke… Lima hari lagi ya… Aku nanti bawa bingkisan kok Leonard.. Jadi jangan murung begitu dong…”

“mau bawa apa Bats?”

“Ain… sudah jelas kan? Daging lah!!”

“Begitu ya… Daging ya… Akan aku jadikan referensi…”

Ain mengangguk-angguk seolah yakin akan sesuatu. Mereka berdua memamerkan percakapan seperti sebuah komedi di hadapan Leonard yang sedang termenung.

Beberapa hari yang lalu Ain sempat berpikir bahwa untuk sementara tidak akan ada waktu bersantai untuk dirinya. Namun sepertinya dengan ini ia bisa sedikit bersenang-senang dengan teman sekelasnya. Ini adalah sebuah kesempatan, jadi Ain memutuskan untuk menikmatinya dengan semaksimal mungkin.

“Yahh… Aku sangat menantikannya loh Leonard…”

“…Perlahan-lahan kekhawatiran saya semakin… Yang Mulia.”

“Hahaha! Tidak apa-apa! Tenang saja! Bukan berarti kakekku akan datang kok…!”

“Kalau Yang Mulia Raja sampai datang saya yakin usia saya berkurang drastis…”

Sempat terpikir untuk berhenti menggoda Leonard seperti ini. Namun Ain merasa cukup senang melihat ekspresinya saat menanggapi Ain, sehingga jadi kebablasan.

Study tour ke rumah sendiri. Meskipun Ain tidak terlalu menantikan agenda ini, namun Ain cukup senang menunggu waktu berkunjung kerumah Leonard.

Meskipun Ayah Leonard sering kali menampakkan wajahnya di Isana, namun ini tidak sama dengan kunjungan rumah. Dan malam ini. Leonard kembali termenung setelah memberitakan hal ini kepada ayah dan ibunya.

Terima kasih telah berkunjung

Comments

2 tanggapan untuk “Maseki Gurume Volume 6 Chapter 2”

  1. SiOtong berkata:

    Jangan” ain mau bawa daging sea dragon :v

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.