Pengaturan Membaca

Font Style

  • Arima
  • Nunito
  • Corben

Font Size

Vol.06 - Ch.04
Pelatihan Ksatria dan Malaikat di Ruang Makan

Diterjemahkan oleh: KuroMage pada 4 Februari 2022 .

Maaf selalu lama update ya....

“Makasih Nya! Ain memang keponakan yang baik Nya!”

“Haha. Tidak masalah Catima-san… Kalau begitu, silakan bersantai…”

Ain telah menyelesaikan misi utamanya hari ini. Ia pun meninggalkan laboratorium dengan langkah kaki yang penuh semangat kebahagiaan. Hanya ada senyuman kemenangan di wajahnya karena telah berhasil menyingkirkan ancaman terbesar,

“Oke… Dengan ini tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan… Semoga saja begitu…”

Terdengar suara langkah kaki menaiki tangga bergema. Karena laboratorium Catima ada di bawah tanah, jadi akses satu-satunya hanya melalui tangga. Dan suara langkah kaki Ain itu terdengar seperti layaknya suara marching band yang mengiringi kemenangannya.

“Claune! Mana Claune!!?”

Ia telah melakukan semua hal yang perlu ia lakukan. Selanjutnya ia hanya perlu berangkat ke sekolah. Karena ada sedikit aturan yang merepotkan yang mewajibkan ia datang dulu ke sekolah, baru melanjutkan kunjungan ke Istana.

Sambil menaiki tangga, Ain memanggil Claune. Sepertinya Ain bernar-benar bahagia karena rencananya telah sukses dilaksanakan. Dan suaranya pun benar-benar penuh semangat.

“Ya, ya. Claune Anda ada di sini kok Yang Mulia…”

Akhir-akhir ini Ain terus di goda dengan cara seperti itu. Claune tidak ada bosan-bosannya menggunakan ejekan itu sampai akhirnya Ain menyerah dan membiasakan diri dengan itu.

Claune sudah menunggu di ujung tangga yang Ain naiki. Karena ini sudah memasuki musim panas, pakaian yang gadis itu gunakan juga sedikit berbeda, pakaian khas musim panas dan terlihat menyejukkan. Hari ini gadis itu mengenakan kemeja tanpa lengan berwarna biru muda yang serasi dengan rambutnya, dan rok putih sepanjang lutunya.

Jaket tipis yang ada di lengannya hanya ia gunakan ketika menemui orang lain. Alasan mengapa ia tidak memakainya dan memamerkan lengan putihnya itu saat ini adalah untuk memberikan sedikit ‘bonus’ kepada Ain.

“Rencana sukses! Dengan sempurna!”

“Syukur deh… Jadi apa yang kamu lakukan pada Catima-sama?”

“Aku memberikan ikan kering kesukaannya…. Dengan ini dia akan situasi akan tenang selama beberapa jam…”

Claune hanya bisa menghela nafas panjang melihat tingkah Ain yang terlihat seperti memberikan umpan kepada bibinya sendiri yang juga merupakan tuan putri pertama. Akan tetapi sepertinya Ain telah mempertimbangkan berbagai macam rencana, dan hasilnya rencana inilah yang terbaik dari segi biaya dan efektivitas.

Ain terlihat sangat bangga setelah menyuap bibinya dengan ikan kering.

“Yah, Catima-sama juga sepertinya senang.. Jadi tidak masalah ya…”

“Karena aku dan Catima-san sama-sama bahagia, jadi impas kan??”

Ain tersenyum puas hanya karena hal sepele ini. Bahkan Claune pun merasa suasana terasa “hidup” saat berada di samping Ain.

“Dill mana?”

“Barusan aku melihatnya keluar… Mungkin ia sedang menunggu Ain…”

“Tapi itu merepotkan ya… kenapa harus ke sekolah dulu kalau ujungnya akan ke sini lagi…”

Wajar jika Ain merasa sedikit tidak nyaman. Sebab study tour hari ini akan dilakukan di rumahnya, jadi ia merasa tidak perlu repot-repot untuk berangkat ke sekolah dan menaiki Water Train terlebih dahulu. Meskipun ia tidak mengajukan untuk memberikan perlakuan khusus untuk berkumpul di lokasi kunjungan. Namun, tetap saja ia ingin mengutarakan sedikit keluhannya.

“Aku mengerti rasanya… tapi Ain juga tidak mau diperlakukan berbeda hanya karena alasan itu kan??”

“… Yah, iya juga sih…”

“Sudah… Sana berangkat dengan semangat, Yang Mulia! Nanti saya elus kepalanya deh…”

Ain berjalan menuju gerbang bersama dengan Claune. Setelah keluar ia akan langsung berangkat bersama dengan Dill. Meskipun ia merasa sedikit kesal, namun ia harus bersabar. Dan Claune pun tersenyum yang melihat Ain yang berada di sampingnya terlihat kesal.

“Iya… iya… Ngomong-ngomong, bagaimana soal pertemuan nanti sore?”

“Sesuai rencana, aku juga akan hadir di sana, dan sepertinya Warren-sama akan memberikan beberapa penjelasan…”

Hari ini ada agenda melakukan pertemuan dengan Warren di sore hari. Pertemuan itu akan membahas beberapa konfirmasi terkait penyelidikan ke kota Balt. Dan Ain sangat menanti-nantikan kesempatan itu, karena penyelidikan ini adalah yang terpenting bagi dirinya.

“Hmm Okee… Kalau begitu aku berangkat ya… tidak enak membuat Dill menunggu terus…”

“Ya.. Hati-hati ya Ain…”

“Tenang saja… Sampai jumpa!”

Ain pun keluar dan bergabung dengan Dill. Kemudian ia menepuk ringan pipinya dengan kedua tangannya sendiri untuk menyegarkan kembali semangatnya. Hal ini ia lakukan bukan karena Claune mengatakan “akan mengelus kepala”. Tentu saja bukan. Ain berusaha membuat alasan di dalam hatinya.

***

“Penjelasannya sampai di sini… Kalau begitu, silakan menuju ke lokasi kunjungan, dan berhati-hatilah…”

Kata-kata Profesor Kyle pun membuat seluruh siswa First Class bubar. Selanjutnya mereka akan berangkat menuju ke lokasi kunjungan yang telah mereka tentukan. Dan Ain akan menuju ke Istana yang menjadi target study tour bersama dengan teman-temannya seperti biasa.

Bersamaan dengan siswa-siswa lainnya, mereka berempat pun meninggalkan kelas. Konsep sekolah yang terlalu bebas sampai-sampai tidak ada panduan ini membuat Ain sedikit kebingungan.

“Ngomong-ngomong Ain… Apa yang akan kita lakukan ketika sampai di Istana?? Tidak mungkin kan kita langsung masuk begitu saja??”

“Oh, nanti akan ada pemandunya.. jadi jangan khawatir… Sepertinya pemandu itu juga akan bergabung dengan kita sebentar lagi…”

Ain menjawab pertanyaan Bats. Meskipun bersama dengan Ain, tentunya mereka tidak bisa bebas berkeliaran di Istana, dan seorang ksatria telah ditunjuk sebagai pemandu acara hari ini.

“Yang Mulia, apa pemandunya itu Royal Knight?”

“Kalian juga kenal kok… Karena Dill yang akan jadi pemandu hari ini…”

Mereka sedikit senang mendengar hal ini.

Orang-orang yang berjalan di koridor senang mendengarnya. Sebab selain orang itu adalah senior mereka. pernyataannya saat melawan Clive dahulu kini diperlakukan seperti legenda kecil. Terlebih untuk Bats, ia adalah penggemar berat orang itu, dan ini menjadi sebuah informasi yang cukup baik.

“He-hei Ain… Bagaimana aku harus memanggilnya?? Dill-sama?? Atau tuan Glacier…?”

Bats adalah keluarga Baron, dan saat ia memikirkannya kembali, sewajarnya ia memberikan imbuhan -sama untuk memanggilnya.

“Tunggu sebentar Bats… Bukankah kau selalu mengabaikan nama panggilan untuk Yang Mulia…. kenapa kau malah kebingungan memilih nama panggilan untuk pengawal Dill…”

“Benar juga… Ain-sama kan Putra Mahkota… Normalnya tidak akan diizinkan untuk memanggil beliau hanya dengan nama saja…”

“Hah?? Ain ya Ain… Kalian ini bicara apa sih?? Aku kebingungan karena lawan bicaranya bukan teman tahu…”

Leonard dan Loran sama-sama terkejut melihat Bats memasang ekspresi keheranan seakan tidak mengerti pertanyaan mereka. Akan tetapi Bats adalah orang yang memilih kata-kata tergantung situasi dan kondisi, benar-benar luar biasa.

“-san saja gak apa-apa kali?? Panggil saja Dill-san seperti biasanya… Lagi pula kalau tidak begitu aku jadi kesulitan…”

Pada akhirnya, mereka semua memutuskan untuk memanggil orang itu dengan “Dill-san” khusus untuk hari ini saja sesuai permintaan Ain.

Kemudian, setelah terus berjalan selama beberapa menit, terlihat Dill sudah menunggu di samping gerbang sekolah seperti apa yang Ain katakan. Hari ini, ia tidak hanya berperan sebagai pengawal Ain, namun juga semua teman-temannya.

“Maaf membuatmu menunggu Dill…”

“Tidak masalah Ain-sama…. Baiklah, apa boleh saya langsung memperkenalkan diri?”

“Ya. Silakan.”

Setelah mendengar jawaban Ain, Dill berdeham sekali, lalu kemudian memperbaiki posisi tubuhnya.

“Baik, Perkenalkan kembali, Saya Dill Glacier, Saat ini saya berperan sebagai pengawal pribadi Ain-sama… Tentu saja saya mengetahui bahwa Anda semua adalah teman baik Ain-sama… Karena itu, hari ini, pemandu Anda semua…. Jika ada yang punya pertanyaan silakan ajukan kapan saja…”

Sikapnya yang sangat terlatih sebagai seorang ksatria menarik perhatian dari para siswa yang sedang berjalan di luar sekolah. Sangat menawan serta memancarkan kesetiaannya.

“Ka-kami juga mohon kerja samanya…!”

“Kami merasa terhormat dipandu oleh ksatria ternama seperti Dill-san…”

“Mohon kerja samanya!”

Bats, Leonard, dan Loran menjawab secara bergantian. Ain merasa sedikit senang karena dapat mendengar logat formal Bats yang terbilang cukup langka.

“Kalau begitu, mari kita berangkat…”

Setelah memastikan semua selesai menyapa, Ain pun mulai berjalan. Dill dan ketiga sahabatnya pun mengikuti di belakangnya.

“Ain-sama… Ada beberapa poin perhatian, jadi saya akan menjelaskannya di dalam kereta ya…”

“Hmm. Baiklah…”

Karena tour kali ini dilakukan di dalam gerbang Istana, maka ada beberapa aturan yang diterapkan. Meskipun tak ada yang berpikir bahwa mereka akan berbuat kesalahan. Namun untuk berjaga-jaga, hal ini tetap harus disampaikan.

“Saya berharap Anda semua dapat menikmati kunjungan hari ini…”

Perkataan Dill ini membuat harapan ketiga orang itu naik melambung. Meskipun bagi Ain kegiatan ini hanyalah aktivitas biasa, namun bagi ketiga peserta lainnya sangat menantikan acara ini dan itu tercermin jelas pada ekspresi bahagia di wajah mereka.

***

“Kalau begitu, langsung saja, saya akan menjelaskan beberapa poin yang perlu diperhatikan….”

Setelah mereka sampai di stasiun kota akademi, mereka pun langsung menaiki Water Train menuju ke White Rose. Karena jam sibuk telah terlewati, di dalam kereta terasa sedikit lengang.

“Pertama-tama, mohon untuk tidak melangkahkan kaki ke tempat yang tidak saya pandu… Sejujurnya tidak akan ada masalah besar jika Anda semua mematuhi aturan ini…”

Tiga orang selain Ain mengangguk. Bukan berarti mereka tidak setuju dengan poin itu, justru mereka semua merasa poin ini adalah peraturan yang wajar.

“Selanjutnya, mohon untuk tidak menyentuh apa yang telah sengaja diletakkan… Karena agenda hari ini juga akan mengunjungi pusat pelatihan, jadi ada beberapa tempat yang berbahaya… Karena itu, mohon untuk mematuhi aturan ini demi keamanan dan keselamatan…”

Peraturan ini juga wajar. Karena di Istana memiliki banyak peralatan sihir yang di pasang di segala penjuru, maka perlu untuk berhati-hati.

“Dan yang terakhir… Saya sangat mengerti bahwa Anda semua sangat akrab dengan Ain-sama… Namun di dalam istana banyak orang-orang yang cukup ketat dengan aturan dan etika, jadi selama berada di Istana, mohon untuk memanggil Ain-sama dengan sebutan ‘Yang Mulia’…”

Ini tidak sama dengan Warren dan Dill yang masih memanggil Ain dengan “Ain-sama” ketimbang “Yang Mulia”. Dengan mempertimbangkan pekerjaan dan tugas Warren dan Dill, para ksatria dan staf di Istana dapat memaklumi perilaku ini. Namun tak ada yang dapat menyangkal jika ada kemungkinan bahwa akan penolakan jika Leonard maupun Bats yang melakukan itu meskipun mereka adalah keluarga bangsawan. Oleh karena itu, hal ini juga dimasukkan ke dalam poin yang perlu diperhatikan.

“Tentu saja, pengawal Dill…. Saya akan berusaha membuat Bats mematuhinya…”

“Bats?? Hei Leonard! Aku juga bisa memilih kata tergantung situasi tahu!!!”

“Memang sih… tapi tetap saja mengkhawatirkan…”

Dill merasa sedikit senang ketika melihat percakapan mereka berdua, dan terlihat sedikit senyuman di wajahnya.

“Saya percaya Anda semua akan baik-baik saja… Jadi saya harap Anda tidak perlu terlalu khawatir… Selanjutnya mari kita bicarakan tentang agenda hari ini…”

Mata Bats tampak berbinar ketika mendengar itu. Karena sebelumnya disebutkan bahwa mereka akan mengunjungi tempat pelatihan, Bats jadi sangat bersemangat. Namun, baik Leonard maupun Loran juga tak kalah antusias dalam mendengarkan.

“Pertama-tama kita akan mengunjungi ruang tugas malam dan ruang peralatan yang ada di dekat gerbang utama. Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi pusat pelatihan dan gudang senjata yang letaknya berdekatan. Karena kita akan makan siang lebih cepat, jadi setelah itu kita akan mengunjungi kantin istana, dan menikmati santapan di sana…”

Meskipun hanya disebutkan fasilitas di dalam gerbang Istana, sebenarnya ada banyak tempat dan bangunan di sana. Misalkan saja ada sebuah fasilitas baru yang dibangun di belakang pusat latihan. Ini adalah tempat yang akan digunakan Barra bekerja, dan merupakan tempat merawat orang-orang yang terluka parah.

Namun fasilitas itu tidak termasuk dalam agenda hari ini. Selain karena belum selesai di bangun, juga karena gadis itu memiliki agenda lain.

“Sepertinya kami akan mengunjungi cukup banyak tempat ya…”

Meskipun ia berusaha bersikap tenang, namun nada ucapannya terdengar bersemangat. Ia sangat senang karena dapat mengunjungi banyak tempat.

“Tentu saja, karena itu, agar kita bisa mengelilingi semua tempat sebelum waktu makan siang, kita harus mengusahakan agar semuanya berjalan dengan lancar…”

Sebenarnya mereka ingin dapat melakukan tur dengan santai selama seharian penuh, namun sepertinya harapan itu sedikit berlebihan. Jadi mereka harus berusaha menikmati waktu terbatas yang mereka miliki.

“Silakan jika ada pertanyaan… Semoga hari ini menjadi hari yang sangat bermanfaat bagi Anda semua…”

Dan beberapa saat kemudian, Water Train mereka pun tiba di White Rose.

Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke Istana dengan dipimpin oleh Ain dan Dill.

***

“Benar-benar besar ya…”

“…Sebenarnya, ini juga pertama kalinya aku melangkahkan kaki masuk ke gerbang Istana…. Karena biasanya pakai kereta kuda…”

“Aku juga Leonard… Kalau melewatinya langsung seperti ini jadi benar-benar terasa betapa menakjubkannya ya…”

Ketika mendengar ungkapan kekaguman Loran, dua orang yang lainnya pun ikut menimpali, dan menyatakan keterkejutan mereka.

Hanya Loran di antara mereka yang baru pertama kali memasuki gerbang Istana. Alasan mengapa dia tidak mengatakan hal lain selain “Benar-benar besar ya” adalah bukan karena ia kekurangan kosakata, namun murni karena ia berada dalam kondisi di mana kepalanya terasa kosong dan hanya bisa mengatakan itu. Saat memperhatikan orang itu, ia hanya terdiam dengan wajah terpana dan menatap ke atas.

“Loran!! Loran!!! Apa kau baik-baik saja!!??”

“Oh, eh… maaf, Yang Mulia… Saya hanya benar-benar terpana…”

“Syukurlah kalau begitu… Kalau kau merasa tidak enak badan segera laporkan ya….”

“Ma-mana mungkin!! Kalau aku melewatkan kesempatan emas seperti ini.. tidak akan ada lagi kesempatan kedua!!?”

Hari ini merupakan hari yang sangat dinanti-nanti oleh Loran, sehingga ia menolak saran itu. Lagi pula, ia bahkan hanya tidur dua jam tadi malam karena ini.

“Haha. Mohon jangan terlalu memaksakan diri… Baiklah semuanya, saya akan mulai memandu Anda semua mengeliningi Istana…”

Mereka berhasil tiba di Istana, dan perkataan Dill membuka agenda Study tour mereka.

****

“Zeaaa!!!”

“Hmm!”

“Uuuoooooh!!”

Sebuah tempat yang dipenuhi suara-suara pria. Rombongan study tour itu pun di bawa ke pusat latihan para Ksatria. Terkecuali Ain, mereka semua merasakan tekanan dari kekuatan para ksatria itu.

“Lu-luar biasa….”

“Ah… Mereka layak menjadi ksatria yang bertugas di White King”

“….”

Bats sudah terbiasa melihat ksatria. Sebab ayahnya juga merupakan ksatria yang bekerja di sebuah benteng, dan selalu bertarung melawan monster. Meskipun begitu, bagi Bats, ini pertama kalinya ia melihat ksatria istana, yang dapat dikatakan sebagai pasukan elite.

Begitu pula dengan Leonard, terlihat ekspresi kekaguman di wajahnya. Akan tetapi Loran, malah tak dapat berkata-kata setelah di terpa aura para ksatria di hadapan mereka.

“Jadi ini pelatihan para Royal Knight… Sehebat ini ya ternyata…”

“…Hei Bats…”

“A-ada apa Yang Mulia…”

“Tidak.. Bagaimana ya….?”

Ain menjadi sulit menjelaskan setelah mendengar perkataan Bats sebelumnya. Dill yang menyadari akan hal ini pun mulai menjelaskan maksud Ain.

“…Bats-kun… Ini bukan tempat latihan Pasukan Royal Knight…”

Dill yang tengah memperlakukan Bats dan rombongannya sebagai tamu melanjutkan perkataannya dengan nada yang sopan.

“Ini adalah adegan pelatihan biasa untuk ksatria… Sedangkan latihan untuk pasukan Royal Knight seharusnya lebih intens lagi…”

Ketika mendengar ini, Bats pun akhirnya sadar akan sebuah fakta. Bats merupakan salah satu yang terbaik di Kingsland Royal Academy, dan mungkin juga di seluruh kota akademi. Meskipun ia merasa bangga akan hal itu, di tempat pelatihan ksatria biasa ini, ia merasakan tekanan yang luar biasa. Ditambah lagi Dill mengatakan bahwa Pasukan Royal Knight menjalani pelatihan yang jauh lebih intens. Hal ini sangat mengejutkan baginya.

“Dan mereka ini terus berlatih untuk mengincar puncak para Royal Knight. Tentu saja banyak di antara mereka yang ingin menjadi penjaga gerbang, atau pekerjaan di tempat lain, namun tetap saja, seorang Royal Knight haruslah yang terkuat di antara para ksatria…”

Satu informasi lagi masuk ke dalam telinga Bats yang masih terkagum-kagum. Ketika memikirkannya kembali, mungkin Dill termasuk beruntung. Begitulah yang Bats rasakan. Sebab ayahnya adalah seorang Admiral, dan sejak kecil ia ikut berpartisipasi dalam pelatihan ini. Meskipun saat ini ia sudah mendapat gelar resmi sebagai Royal Knight, namun ia juga menjabat sebagai pengawal pribadi Ain.

Singkat kata, sungguh sangat beruntung. Meskipun pada kenyataannya, Dill mendapatkan pelatihan yang mematikan dari ayahnya, Lloyd itu.

“…Wilayah di mana ayah Bats-kun bertugas adalah wilayah yang selalu di kelilingi oleh bahaya. Namun di dalam Istana juga sama… Mereka semua diberikan pelatihan yang mematikan untuk dapat melindungi para keluarga kerajaan. Karena itu, keduanya juga sama-sama ‘Mempertaruhkan hidup’ di tempat masing-masing…”

Meskipun lawannya berbeda, namun tetap saja mereka sama-sama mempertaruhkan hidup. Dan Bats menyaksikan persamaan itu di tempat ini.

“… Terima kasih… Berkat itu saya jadi mengerti di mana posisi saya berdiri…”

Bats menundukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih. Bagi Ain dan yang lainnya, ini adalah pertama kalinya mereka menyaksikan Bats melakukan itu. Namun sebagai sahabat yang sudah cukup lama berteman, mereka dapat mengerti mengapa orang itu sampai bersikap demikian.

“Ngomong-ngomong, Loran… Bukannya sebaiknya kau segera menutup mulutmu itu…”

“Oh!? Loh kok? Apa aku dari tadi melamun???”

Loran berhasil mendapatkan kesadarannya kembali setelah ditegur Ain. Sejak tadi Loran menonton pelatihan para ksatria dengan mulut terbuka dan tanpa berkedip. Ia yang benar-benar tertekan oleh aura para ksatria berakhir dengan menunjukkan penampilan yang menyedihkan.

“Dari awal tadi kau sudah bengong loh…”

“… Ah beneran… Aku sampai ngiler…”

Semua orang menatap Loran yang mengeluarkan saputangan dari sakunya dan terburu-buru menyeka wajahnya. Hal ini sangat bertentangan dengan aura yang dipancarkan oleh sekeliling mereka, dan mengundang tawa.

“Ku… Kuku, Loran…. Wajahmu ini… gak banget deh…”

“A-apa boleh buat kan!! Tidak seperti kalian, aku tidak punya kesempatan melihat yang seperti ini!!”

Loran adalah orang biasa, dan tidak pernah memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan ksatria. Atau lebih tepatnya, sejak ia masuk akademi dan mengenal Ain, semua yang terjadi padanya adalah hal baru. Karena itu ia benar-benar sampai kewalahan menyaksikan pemandangan pelatihan para ksatria elite yang ada di Istana.

“Waktunya habis! Gantian!”

“Siap!!”

“Laksanakan!!”

Mengesampingkan rombongan yang tengah berbincang, para pria yang berlatih pun berganti.

“Karena itu, semuanya… Saya harap Anda semua bisa menikmati penampilan latihan para pasukan Royal Knight selanjutnya…”

Sepertinya sudah direncanakan sejak awal. Mereka bertiga pun berteriak kegirangan karena tidak menyangka akan dapat menyaksikannya. Para Royal Knight yang menyadari suara itu pun menyadari keberadaan Ain, kemudian para ksatria yang telah selesai mengenakan peralatan pun menghampiri Ain dan memberikan salam.

“Salam Yang Mulia Putra Mahkota… Para tamu sekalian juga, semoga Anda semua menikmatinya…”

Semuanya mengatakan hal yang sama, dan setelahnya kembali melakukan persiapan. Gerakkan dan penyampaian hormatnya benar-benar tertata dan membuat mereka tampak sangat cerdas dan bermartabat.

“Pe-pengawal Dill… Para Pasukan Royal Knight benar-benar bermartabat ya…”

“Pasukan Royal Knight masih harus banyak berlatih bahkan setelah mereka dilantik… Baik cara menyeduh teh, maupun tata krama… Juga belajar berbagai bidang pendidikan…. Agar tidak menjadi Aib sebagai anggota pasukan ksatria terkuat di Istalica…”

Sudah sering kali mereka mendengar tentang kehebatan para Royal Knight. Namun tak ada di antara mereka yang menyangka bahwa pasukan itu harus mempelajari hal-hal kecil sampai sedetail itu.

Sebagai pewaris keluarga Duke, Leonard sudah banyak bertemu dengan bangsawan. Meskipun begitu, bahkan Leonard juga menganggap tindakan anggota pasukan itu luar biasa.

“Mulai!!”

Tidak seperti sebelumnya, kali ini ada juga wanita di antara para Royal Knight. Meskipun ini adalah pemandangan yang biasa bagi Ain, namun bagi ketiga temannya pelatihan kali ini jauh lebih mengejutkan daripada pelatihan ksatria sebelumnya.

Leonard pun berbicara kepada Bats yang tengah terpana.

“… Hei Bats… Menurutmu, berapa lama kau dapat bertahan??”

“Bertahan?? Apa maksudmu??”

“Maksudku… Berapa lama kau bisa bertahan jika menghadapi pasukan Royal Knight ini??”

Ketika mendengar itu, Bats pun tertawa dan menatap Leonard.

“Jangan bodoh… Sudah jelas aku akan mudah dikalahkan hanya dengan dua atau tiga kali ayunan pedang…. Pasukan Royal Knight itu benar-benar hebat loh!!”

Ketika mendengar jawaban jujur Bats, Leonard pun memperbaiki akal sehatnya. Mau bagaimanapun, Bats adalah salah satu yang terkuat di antara siswa seangkatan mereka. Dan ia mengaku bahwa akan dapat dikalahkan dengan mudah hanya dalam dua atau tiga kali benturan. Maka sekuat itulah para Pasukan Royal Knight di hadapan mereka ini.

“Aah.. Aku jadi ingin menjadi Royal Knight…”

“Loh?? Bukannya Bats ingin bekerja di Benteng tempat ayahmu bekerja??”

Meskipun kali ini juga terkejut, namun Loran tidak terlihat menyedihkan seperti sebelumnya. Ia pun menanyakan keinginan Bats.

“Memang sih… Aku ingin melihat Ayahku membantai para monster… tapi kalau melihat yang seperti ini… tidak salah kan kalau aku mengidolakan mereka…”

Sepertinya yang mendapat pengaruh paling besar dalam kunjungan hari ini adalah Bats. Sebab matanya benar-benar berbinar layaknya seorang anak laki-laki biasa.

“Luar biasa tahu… Langkah kaki, ayunan pedang, titik beban.. Semuanya benar-benar tidak bisa aku tandingi…”

Kata-kata pujian terhadap Pasukan Royal Knight secara alami keluar dari mulutnya. Semua orang menyadari betapa hebat dan dapat diandalkannya pasukan Royal K

Semua orang dapat menyadari keandalan para ksatria saat melihat pemandangan itu.

Kemudian, setelah mereka menonton latihan Royal Knight selama sekitar 30 menit, mereka pun memutuskan untuk pindah ke lokasi terakhir kunjungan.

***

Ain mungkin tidak mengetahui hal ini, namun di kantin tempat para ksatria makan, ada seorang gadis yang di juluki sebagai “Malaikat”.

Gadis itu membantu banyak ksatria sebagai seorang pelayan magang. Hal ini merupakan perintah dari guru gadis itu sebagai langkah pertama untuk menjadi pelayan sebenarnya. Dan penampilan gadis yang sedang berusaha keras itu menjadi hiburan dan penyembuh kelelahan bagi para ksatria yang selesai berlatih.

“Mei-chan!! Aku boleh minta air??”

“Baik! Mohon tunggu sebentar!!”

“Mei-chan! Lupakan saja orang itu! Aku mau tambah dong!!”

Seharusnya, tempat ini adalah ruang makan bagi para ksatria…..

Namun sepertinya situasi telah berubah sejak terakhir kali Ain menginjakkan kakinya di tempat ini. Terlihat raut wajah Ain kebingungan dan seolah bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

“Hei, lu ngomong apa barusan!! Gua kan pesan duluan!!”

“Hah!? Gapapa kan! Lagian juga cuma minta aer doang!! Ambil aja sendiri sono!!”

Ain tidak menyangka bahwa ia akan menyaksikan adegan perebutan Mei di depan matanya.

“Tidak boleh!! Nanti kalau berantem dua-duanya gak diambilin!!”

“Eh… bercanda kok, Mei-chan! Kita cuma lagi main-maion saja kok.. Ya kan!?”

“Iya.. benar!! Jadi Mei-chan jangan marah begitu ya….ya…”

Pemandangan ksatria yang sedang berusaha memperbaiki mood seorang pelayan muda. Ketika Ain menyaksikan hal ini, penasaran apakah mereka sedang dirundung stres. Apa perlu untuk merenovasi tempat kerja mereka?

“Beneran?? Beneran gak berantem??”

“Beneran deh! Tadi aja kita latihan dengan akur kok!”

“Itu benar, Mei-chan! Jadi tenang saja!”

Seketika wajah Mei menjadi ceria dan menjawab mereka.

“Kalau begitu aku ambil dulu ya!! Mohon tunggu sebentar!!”

Ain dan Dill melangkah maju. Mereka saling menatap dan kemudian mengangguk. Ini mungkin pertama kalinya mereka melakukan kontak mata.

“Semuanya tunggu sebentar ya.. Aku barusan minta Dill masuk dan menyiapkan tempat untuk kita….”

“Oh.. Oke… Maaf ya merepotkan…”

“Mohon maaf Yang Mulia… Karena merepotkan kalian..”

“Kalau begitu kita tunggu di sana yuk…”

Memang sedikit menyakitkan rasanya karena terkesan membohongi mereka, namun Ain tidak ada pilihan selain mengabaikan perasaan itu. Karena ia tidak bisa memperlihatkan sisi ksatria yang seperti itu kepada mereka.

Dill sependapat dengan Ain. Sementara Ain mengalihkan mereka bertiga, Dill pergi untuk mengatur para ksatria di dalam dan memberitahu mereka bahwa Ain akan datang.

(Mari kita selidiki apakah ada ksatria yang lolicon…)

Ain telah membuat keputusan. Untuk melakukan penyelidikan terkait hal ini.

Terima kasih telah berkunjung

Comments

3 tanggapan untuk “Maseki Gurume Volume 6 Chapter 4”

  1. Bashir berkata:

    Mantap lanjutkan

  2. SiOtong berkata:

    Hadir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *